Selasa, 27 Desember 2011
Senin, 26 Desember 2011
Larangan Menggunakan Kayu Pohon Nangka untuk Bahan Bangunan Rumah
Cerita kepercayaan masyarakat ini
berasal dari sebuah desa kecil di Gianyar, Bali. Secara geografis, desa ini terletak
di daerah trofis dan kehidupan masyarakatnya bercorak agraris. Desa yang
dimaksud adalah Desa Taro. Desa ini memiliki sejarah panjang dari jaman
penyebaran Agama Hindu sampai sejarah terbentuknya sistem “ banjar atau desa pekraman” di Bali.
Selain hal tersebut, kepercayaan masyarakat Desa Taro terhadap sesuatu atau
mitos juga sangat banyak dan menjadi warisan yang diaplikasikan sampai saat
ini.
Di
Desa Taro dipercayai bahwa tidak boleh menggunakan, dan menjual kayu pohon
nangka untuk dijadikan bahan membuat rumah. Kayu tersebut hanya diperbolehkan
untuk bahan bangunan tempat suci atau Pura. Jika ada yang berani melanggar
ketentuan tersebut, orang yang bersangkutan akan mengalami yang yang jelek dan
bernasib buruk. Kepercayaan tersebut muncul disertai dengan alasan yang logis.
Alasan tersebut akan dijelaskan di bawah ini.
Menurut
sejarah yang ada, Desa Taro terbentuk dari hasil perjalanan Rsi Markandya yang
pada waktu itu menyebarkan Agama Hindu di Bali. Secara singkat, Rsi Markandya
setelah membangun Pura Agung Besakih/ Basuki, Beliau melanjutkan perjalanan ke
selatan bersama murid-muridnya. Setelah sampai pada suatu daerah yang berhutan,
beliau dan muridnya berhenti dan bertapa karena beliau merasa tempat tersebut
bagus untuk melaksanakan pertapaan. Beliau mendapat pewisik, kalau di tempat
tersebut baik untuk dijadikan tempat tinggal atau perkampungan. Selain itu,
hutan yang lebat dan dipenuhi ribuan binatang tersebut juga tempatnya baik
untuk dibangun sebuah tempat suci. Hutan yang dimaksud dan tempat suci yang
dibangun oleh Rsi Markandya sekarang dikenal dengan Desa Taro/ Sarwa Ada dan
Pura Agung Gunung Raung.
Konon,
sebelum Rsi Markandya membangun desa dan tempat suci di sana, beliau menaiki
sebuah pohon nangka yang tinggi untuk melihat di sekeliling hutan tersebut.
Oleh karena itu, masyarakat di Desa Taro menganggap pohon nangka merupakan
simbol tempat orang suci seperti Maha Rsi Markandya. Sampai saat ini,
dipercayai kayu pohon nangka harus digunakan sebagai bahan untuk membangun
tempat suci. Jika orang yang memiliki pohon nangka memanfaatkan kayu dari pohon
nagka tersebut untuk tujuan yang lain, maka akan terjadi hal yang buruk dan
ditanggung oleh seluruh keluarga pemilik pohon nangka tersebut.
Memilih Mobil Berbahan Bakar Solar atau Premium
Jenis
mobil di Indonesia sangat beragam bentuk dan mereknya. Mobil sesungguhnya tidak
lagi menjadi barang yang mewah pada zaman sekarang. Berbagai jenis mobil
bermuculan di pasar Indonesia. Namun , dilihat dari bahan bakarnya, mobil yang
laris dipasaran adalah mobil yang berbahan bakar solar dan premium.
Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan yang menjadikan masyarakat sukar
untuk menentukan pilihan saat ingin memiliki sebuah mobil impian.
Perlu
diketahui, mobil yang berbahan bakar solar produknya memang tidak sebanyak
mobil yang berbahan bakar premium. Hal tersebut bukan tanpa alasan, mobil yang
berbahan solar cenderung mengeluarkan polusi lebih banyak daripada mobil yang
berbahan bakar premium atau tidak ramah lingkungan. Mobil yang berbahan bakar
premium lebih ramah lingkungan dan tarikan mesinnya lebih spontan. Mobil jenis
ini banyak sekali bentuk dan rupanya sesuai dengan kebutuhan di berbagai
golongan masyarakat. Selain itu, premium mudah didapat dibandingkan solar. Dari
segi harga, premium dan solar sama harganya pada kisaran Rp. 4500/liter. Pada
zaman sekarang, mobil yang enak tarikannya dan tetap ramah lingkungan merupakan
idaman bagi setiap masyarakat yang ingin memilih mobil sebagai kendaraan
pribadi, keluarga, kantor dan lain sebagainya. Oleh karena itu, mobil berbahan
bakar premium merupakan pilihan yang tepat.
Di
balik keunggulan mobil yang berbahan bakar premium, memang terdapat isu bahwa
mobil jenis lebih boros dari pada solar. Namum teknologi terus mengalami
kemajuan, tidak hanya pada bidang komunikasi, pada bidang permesinan pun
teknologi berkembang secara pesat. Masyarakat tidak perlu khawatir, mobil yang
berbahan premium, selain ramah lingkungan dan memiliki tarikan yang spontan, mobil
jenis ini juga irit bahan bakar. Mobil yang berbahan bakar premium sekarang ini
dilengkapi teknologi VVTi yang membuat mobil irit bahan bakar dan tetap ramah
lingkungan. Mobil jenis inilah yang seharusnya menjadi pilihan msyarakat.
Mobil
yang berbahan bakar premium lebih baik daripada mobil berbahan bakar solar
karena lebih irit, tarikannya spontan dan lebih ramah lingkungan. Oleh karena
itu, mobil jenis ini banyak bermunculan di pasar Indonesia. Selain itu, mobil
jenis ini lebih banyak pilihan dan berbagai bentuk yang dapat dipilih sesuai
selara masyarakat.
Langganan:
Postingan (Atom)