Senin, 26 Desember 2011

Larangan Menggunakan Kayu Pohon Nangka untuk Bahan Bangunan Rumah


Cerita kepercayaan masyarakat ini berasal dari sebuah desa kecil di Gianyar, Bali. Secara geografis, desa ini terletak di daerah trofis dan kehidupan masyarakatnya bercorak agraris. Desa yang dimaksud adalah Desa Taro. Desa ini memiliki sejarah panjang dari jaman penyebaran Agama Hindu sampai sejarah terbentuknya sistem “ banjar atau desa pekraman” di Bali. Selain hal tersebut, kepercayaan masyarakat Desa Taro terhadap sesuatu atau mitos juga sangat banyak dan menjadi warisan yang diaplikasikan sampai saat ini.
            Di Desa Taro dipercayai bahwa tidak boleh menggunakan, dan menjual kayu pohon nangka untuk dijadikan bahan membuat rumah. Kayu tersebut hanya diperbolehkan untuk bahan bangunan tempat suci atau Pura. Jika ada yang berani melanggar ketentuan tersebut, orang yang bersangkutan akan mengalami yang yang jelek dan bernasib buruk. Kepercayaan tersebut muncul disertai dengan alasan yang logis. Alasan tersebut akan dijelaskan di bawah ini. 
            Menurut sejarah yang ada, Desa Taro terbentuk dari hasil perjalanan Rsi Markandya yang pada waktu itu menyebarkan Agama Hindu di Bali. Secara singkat, Rsi Markandya setelah membangun Pura Agung Besakih/ Basuki, Beliau melanjutkan perjalanan ke selatan bersama murid-muridnya. Setelah sampai pada suatu daerah yang berhutan, beliau dan muridnya berhenti dan bertapa karena beliau merasa tempat tersebut bagus untuk melaksanakan pertapaan. Beliau mendapat pewisik, kalau di tempat tersebut baik untuk dijadikan tempat tinggal atau perkampungan. Selain itu, hutan yang lebat dan dipenuhi ribuan binatang tersebut juga tempatnya baik untuk dibangun sebuah tempat suci. Hutan yang dimaksud dan tempat suci yang dibangun oleh Rsi Markandya sekarang dikenal dengan Desa Taro/ Sarwa Ada dan Pura Agung Gunung Raung. 
            Konon, sebelum Rsi Markandya membangun desa dan tempat suci di sana, beliau menaiki sebuah pohon nangka yang tinggi untuk melihat di sekeliling hutan tersebut. Oleh karena itu, masyarakat di Desa Taro menganggap pohon nangka merupakan simbol tempat orang suci seperti Maha Rsi Markandya. Sampai saat ini, dipercayai kayu pohon nangka harus digunakan sebagai bahan untuk membangun tempat suci. Jika orang yang memiliki pohon nangka memanfaatkan kayu dari pohon nagka tersebut untuk tujuan yang lain, maka akan terjadi hal yang buruk dan ditanggung oleh seluruh keluarga pemilik pohon nangka tersebut.

Memilih Mobil Berbahan Bakar Solar atau Premium



Jenis mobil di Indonesia sangat beragam bentuk dan mereknya. Mobil sesungguhnya tidak lagi menjadi barang yang mewah pada zaman sekarang. Berbagai jenis mobil bermuculan di pasar Indonesia. Namun , dilihat dari bahan bakarnya, mobil yang laris dipasaran adalah mobil yang berbahan bakar solar dan premium. Masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan yang menjadikan masyarakat sukar untuk menentukan pilihan saat ingin memiliki sebuah mobil  impian.
Perlu diketahui, mobil yang berbahan bakar solar produknya memang tidak sebanyak mobil yang berbahan bakar premium. Hal tersebut bukan tanpa alasan, mobil yang berbahan solar cenderung mengeluarkan polusi lebih banyak daripada mobil yang berbahan bakar premium atau tidak ramah lingkungan. Mobil yang berbahan bakar premium lebih ramah lingkungan dan tarikan mesinnya lebih spontan. Mobil jenis ini banyak sekali bentuk dan rupanya sesuai dengan kebutuhan di berbagai golongan masyarakat. Selain itu, premium mudah didapat dibandingkan solar. Dari segi harga, premium dan solar sama harganya pada kisaran Rp. 4500/liter. Pada zaman sekarang, mobil yang enak tarikannya dan tetap ramah lingkungan merupakan idaman bagi setiap masyarakat yang ingin memilih mobil sebagai kendaraan pribadi, keluarga, kantor dan lain sebagainya. Oleh karena itu, mobil berbahan bakar premium merupakan pilihan yang tepat.
Di balik keunggulan mobil yang berbahan bakar premium, memang terdapat isu bahwa mobil jenis lebih boros dari pada solar. Namum teknologi terus mengalami kemajuan, tidak hanya pada bidang komunikasi, pada bidang permesinan pun teknologi berkembang secara pesat. Masyarakat tidak perlu khawatir, mobil yang berbahan premium, selain ramah lingkungan dan memiliki tarikan yang spontan, mobil jenis ini juga irit bahan bakar. Mobil yang berbahan bakar premium sekarang ini dilengkapi teknologi VVTi yang membuat mobil irit bahan bakar dan tetap ramah lingkungan. Mobil jenis inilah yang seharusnya menjadi pilihan msyarakat.
Mobil yang berbahan bakar premium lebih baik daripada mobil berbahan bakar solar karena lebih irit, tarikannya spontan dan lebih ramah lingkungan. Oleh karena itu, mobil jenis ini banyak bermunculan di pasar Indonesia. Selain itu, mobil jenis ini lebih banyak pilihan dan berbagai bentuk yang dapat dipilih sesuai selara masyarakat.